*****
"Pangeran..." sebentuk suara jernih menyentuh telingaku. Seraut wajah tirus mempesona kemudian tampak di mataku. Sejuta tanya meramaikan benakku.
"Selamat datang di Keraton Telaga Warna. Saya putri Dwitasari, Permaisurimu...." ucapnya merdu dan lembut.
Aku tak percaya. Dia mengganguk-angguk anggun. Senyumnya terulas indah. Bola matanya berkilau biru. Belum pernah kulihat sebelumnya cewek sesempurna ini. Apakah dia salah satu bidadari dari tujuh?
"Mari berkeliling ke negeri kita, Pangeran," ucapnya sambil menuntunku hangat.
Di surgakah aku berada sekarang? Semua yang tampak di pelupuk mata hanya keindahan-keindahan yang kukhayalkan saja belum pernah. Bangunan-bangunan megah menjulang indah. Jalan-jalan bersih dan teratur. Bunga-bunga bermacam warna mekar di berbagai tempat menghasilkan udara yang wangi dan segar. Aneka pepohonan tumbuh rimbun memberi keteduhan nan hijau serta memamerkan buah-buah yang ranum. Siapaun boleh puas memetiknya.
Rakyat yang berwajah ramah, ceria dan salam hormat pada kami. Mereka mengenakan busana bagus. Saling senyum dan bertutur sapa. Benar-benar sebuah negeri yang sentosa.
"Inilah kerajaan kita, Pangeran," ucap Sang Putri.
"Kerajaan? Tapi tidak kulihat satupun prajurit bersenjata di sini?"
"Di sini kemakmuran merata. Dirasakan semua warga kerajaan dan semua bersatu menjaga kemakmuran. Tidak pernah ada ketidakpuasan di sini, Pangeran."
*****
Aku takjub dengan negeri hebat ini. Negeri tanpa kesengsaraan dan penindasan. Wajar kalau aku langsung lupa dengan sakit hatiku. Setiap waktu aku didampingi Putri Dwitasari, sang permaisuri yang kecantikannya sungguh cantik sekali. Menikmati jamuan-jamuan lezat yang selalu tersaji. Menonton pertunjukan-pertunjukan seni. Entah sudah berapa lama aku di sini. Yang pasti setiap hari kulewati dengan pelayan paling terhormat sebagai raja sejati.
Tapi setelah sekian lama hatiku mulai terusik kerinduan, kerinduan akan negeri pertiwi yang entah di mana adanya. Negeri yang kutahu rawan bencana dan korupsi. Rindu ayah ibuku, kakek nenek serta saudara-saudaraku yang mungkin saat ini sedang kehilanganku. Apakah Ivi dan Zake juga merasa kehilanganku? Aku ingin kembali sekolah, memakai putih abu-abu berpacu mengukir prestasi bersama sesamaku.
"Aku ingin pulang!"
"Pulang?! Tidak ada seorangpun yang sudah berada di kerajaan ini kembali ke asalnya," tolak Putri Dwitasari saat kukatakan niatku.
"Bodo amat! Aku sudah tidak mau berada di sini. Aku harus pulang!"
"Untuk apa? orang-orang telah menganggapmu mati tenggelam di telaga."
"Persetan!" kataku keras.
"Tidak! Engkau akan tinggal di sini selamanya. Engkau sebenarnya sangat beruntung kupilih menjadi pendampingku. Manusia-manusia lain menjadi budak di sini. Jadi, jangan menuntut yang bukan-bukan, Pangeranku!" katanya sedikit membentak.
"Aku bukan pangeranmu!" aku balas membentak. Kutanggalkan pakaian kebesaran serta atribut istana, kulemparkan ke lantai. Kemudian aku melenggang keluar istana. Aku akan pulang dengan caraku sendiri.
*****
Lama aku berjalan tanpa isrirahat, seluruh badan sudah terasa letih, tapi jalan pulang tak kunjung kutemukan. Semua yang kutanya tak satupun tahu.
Tiba-tiba langkahku terhenti! Aku melihat Lek Ardi, pamanku yang tiga tahun lalu dinyatakan mati tenggelam di telaga, saat ini ada di depanku, sibuk menyapu jalanan.
"Lek Ardi?!" panggilku gembira menemukan orang yang bisa kuajak bersama-sama mencari jalan pulang. Tapi dia tidak mengindahkan panggilanku.
"Lek Ardi! Aku Andra keponakanmu. Ayo kita pulang, Lek..."
Dia tetap gita bekerja dan tak mempedulikanku.
"Lek Ardi!" teriakku tepat di depannya. Barulah dia mau menatapku, tatapannya begitu sedih seolah menahan penderitaan yang sangat berat. Namun tetap membisu tanpa sepatah kata seolah tak mengenaliku, kemudian kembali berkerja tanpa menghiraukan kehadiranku.
"Negeri sialan!" umpatku sembari meneruskan langkah lebih tergesa.
Di antara warga kerajaan yang selalu mengumbar senyum kemakmuran, baru kusadari ternyata ada juga orang-orang yang selalu bekerja dengan sinar derita di mata mereka. Pasti mereka dari kaumku yang dijadikan budak di tempat ini.
Aaaaaa ….! Aku berteriak frustasi. Aku terduduk di bawah sebuah pohon. Tanpa sadar aku menangis di tempat itu.
"Pangeran..." Putri Dwitasari, entah kapan tibanya tiba-tiba telah berada di sampingku, memegang pundakku lembut.
*****
Selepas Adzan Isya aku sampai di depan rumah nenek. Kulihat keadaan rumah cukup benderang dan banyak sandal teronggok di depan pintu. Sampai di depan pintu barulah kutahu di dalam memang ada banyak orang tengah khusuk membaca ayat-ayat suci berbahasa arab. Ada ayah ibuku, kakek nenek, para kerabat lain, tetangga dan beberapa teman sekolah. Ivi dan Zake juga tampak di situ. Ragu aku hendak memberi salam atau sekedar mengetuk pintu.
"Andra?!" seru Ibu saat pandangannya ke arah pintu. Bacaan wirid spontan terhenti. Semua yang hadir serempak melihat ke arah pintu. Mereka semua terperanjat! Bahkan beberapa orang di antaranya kemudian berlarian ke pojok ruangan. Ketakutan!
"Andra kamu pulang?!" Ibu berlari memelukku erat penuh kerinduan. Kamipun bertangisan. Aku disangka sudah mati. Ramainya rumah nenek malam ini karena melaksanakan peringatan empatpuluh hari kematianku. Mayatku ditemukan esok paginya dari hari aku memancing sore itu.
"Jangan takut. Dia memang benar Andra. Alhamdulillah. Ini benar-benar keajaiban, penghuni telaga berkenan membebaskanya," jelas mbah Darmo.
Suasana menjadi tenang. Zake memandangku penuh penyesalan. Kulihat Ivi tersenyum di antara wajah sedihnya.
Aku malu sekali dulu pernah menyepelekan Mbah Darmo tentang adanya kerajaan bawah telaga. Sekarang ini, aku sendiri justru menjadi bagian negeri itu.
*****
Jam istirahat di SMU tempatku menuntut ilmu. Aku, Zake dan Ivi berkumpul di belakang perpustakaan. Hampir lima menit kami di sana tapi masing-masing masih membisu.
"Mungkin secara tidak langsung, kejadian yang kamu alami ada hubungannya dengan kesalahanku. Aku sangat menyesal. Aku minta maaf," ucap Zake membuka obrolan.
Aku masih terdiam. Hanya sedikit menghela nafas.
"Kembalilah pada Ivi, Dra."
"Apa?!" kataku sedikit terkejut.
"Ivi masih mencintaimu, Dra. Waktu kamu menghilang, dialah orang yang paling bersedih. Dia juga yang paling berbahagia saat kemarin kamu kembali."
Aku menoleh ke arah Ivi, menatap wajah cantiknya cukup lama. Benar kata Zake, aku bisa menemukan cinta dan kerinduan dalam bola matanya.
"Tidak, Zak. Kamu harus tetap bersama Ivi," kataku pelan.
Ivi menatapku tak percaya, sebulir airmata meleleh di mata kanannya.
"Ndra, Ivi sangat mencintaimu."
"Kamu juga mencintainya kan?"
"Tapi aku gak mau menghianati persahabatan kita."
"Dengar Zak, sebagai sahabat, aku ingin kamu bisa menbahagiakan Ivi. Dan kita tetap bersahabat," kutepuk pundak Zake meyakinkan ucapanku.
"Andra...." panggil Ivi terisak.
"Ivi, kuharap kamu nggak akan menghianati cinta Zake..." kataku untuk kemudian beranjak pergi meninggalkan mereka sebelum hatiku semakin perih akibat kebohonganku sendiri.
Iya. Sejujurnya aku juga masih mencintai Ivi. Kalau boleh aku ingin pacaran kemarin berlangsung kembali. Tapi hatiku kecut! Bayang-bayang ancaman Putri Dwitasari terus menerorku. Bahwa siapapun cewek yang kupacari akan dimatikan olehnya. Hanya dia yang boleh memilikiku selamanya.
Aku diperbolehkan berada di lingkungan manusia hanya 7 hari pertama dalam setiap bulan. Selebihnya aku harus kembali ke Keraton Telaga Warna! Itulah kesepakatan terakhir yang terpaksa kuturuti. Dan hari ini sudah tujuh hari sejak kepulanganku. Malam nanti tubuh sejatiku akan dijemput paksa ke telaga, digantikan tubuh palsu bukan diriku tapi mirip diriku, dibuat oleh mahluk-mahluk gaib Keraton Telaga Warna. Di sana aku seorang Pangeran. Entah sampai kapan?
******
Cerita ini terinspirasi gara-gara kemarin mancing di sebuah telaga yang konon kabarnya di dalamnya terdapat kerajaan gaib. Dan aku sempat kecemplung, tapi nggak apa-apa.
Cerpen Lainnya:
Gue Gak Mau Terkutuk